Agama ini bisa mengubah seluruh aspek kehidupan manusia, dari kehidupan yang jahiliah – gelap gulita menjadi kehidupan yang terang benderang. Kitab agama ini adalah sumber penerang-nya; bahkan nama lain dari Al-Qur’an itu adalah An-Nur atau cahaya (QS 4:174).

Bahwa Al-Qur’an adalah jawaban atau solusi untuk segala permasalahan kehidupan manusia, itupun dijanjikan oleh Allah (QS 16:89). Maka di bidang apapun manusia modern ini bekerja, sesungguhnya dia bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan inspirasinya.

Pada Al-Qur’an Juz 30 , yaitu juz yang paling awal dan banyak dihafal sejak anak-anak-pun sudah tersimpan ilmu yang amat sangat luas dan dalam bagi yang mau mendalaminya. Ambil misalnya surat Al-Ghasyiyah yang banyak sekali dihafal: “…Maka tidakkah mereka memperhatikan unta – bagaimana diciptakan? Dan langit bagaimana ditinggikan?, dan gunung-gunung bangaimana ditegakkan?, dan bumi bagaimana dihamparkan?…” Bukankah di dalam ayat-ayat ini tersimpan ilmu tentang zoologi, astronomi, geologi…

Bahkan dalam satu rangkaian ayat –ayat berikut, Allah menebarkan segudang ilmu yang bisa menjadi rujukan manusia hingga saat ini. Perhatikan rangkaiannya berikut:

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan. Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS 34 : 10-15)

Hanya dengan enam ayat saja di surat Saba’ ini, kita sudah dirangsang untuk mengembangkan ilmu metalurgi, standar industri, transportasi yang dasyat, ilmu konstruksi, ilmu kesehatan, pertanian, logistic dan pengelolaan negeri yang baik. Setiap ayat dan bahkan kata dalam Al-Qur’an, itu adalah sumber ilmu yang tidak akan habis digali manusia hingga akhir jaman.

Masalahnya adalah mengapa sekarang umat ini dengan bekal yang begitu kuat tidak memimpin peradaban saat ini? inipun dijelaskan olehNya, penyebab ini semua adalah sebuah contoh yang terjadi pada umat yang lain : “… Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat…” (QS 2:85).

Sekarang umat ini bisa berintrospeksi, bagian-bagian manakah dari ayat-ayatnya yang sudah kita imani dan ikuti? bagian manakah yang kita abaikan dan lalaikan?

Dalam ibadah-ibadah khusus bisa jadi kita sudah ikuti petunjuk-petunjuk-Nya itu, namun bagaimana dengan ibadah umum lainnya, bagaimana dengan muamalah kita, bagaimana dengan hukum kita, bagaimana dengan pengelolaan sumber daya alam kita, bagaimana dengan idustri kita, dengan pendidikan dan kesehatan kita dlsb. Sudahkan kita mengikuti petunjukNya itu di bidang kita masing-masing?

Bila belum, ada dua kemungkinan – bisa jadi kita belum tahu saja. Maka cara terbaiknya adalah membaca sebanyak mungkin apa-apa yang ada di Al-Qur’an. Bisa jadi pula kita sudah membaca dan sudah paham, hanya belum cukup untuk mendorong kita bersikap dan berbuat seperti petunjuk itu – untuk yang kedua ini yang dibutuhkan adalah exercise atau latihan terus menerus agar kita terampil dalam mengamalkan ayat-ayatnya – terampil untuk memahami dan menggunakan petunjuk-Nya untuk mengatasi persoalan-persoalan dalam bidang kehidupan kita.

Bagaimana konkritnya? Dari mana kita mulai? Bagi Anda yang sudah lancar membaca Al-Qur’an dan paham pula artinya, Anda tinggal mengasah ketrampilan Anda untuk mengamalkannya. Bagi yang belum bisa membacanya dengan lancar, saat ini sangat banyak pelajaran membacanya di Masjid-Masjid bahkan juga di kantor-kantor.

Bahkan bagi Anda yang karena satu dan lain hal tidak bisa hadir dalam pelajaran fisik, banyak sekali aplikasi pelajaran Al-Qur’an yang ada di dunia maya. Salah satunya adalah yang di develop oleh team kami di Badr Interactive dengan nama Learn Quran yang dapat didownload gratis di Play Store-nya Android. Aplikasi yang sederhana yang kami luncurkan dua tahun lalu tersebut hingga kini telah didownload oleh lebih dari 360,000 pengguna dan utamanya adalah pengguna-pengguna di luar negeri.

Berangkat dari pengalaman ini – bahwa dengan effort yang tidak terlalu berat kita sudah bisa ‘mengajar Al-Qur’an’ bagi ratusan ribu penduduk dunia, insyaAllah dalam beberapa bulan kedepan – targetnya sebelum Ramadhan kami akan meluncurkan web dan kemudian juga aplikasi yang bertujuan untuk mendorong dan menghargai – encouragement and appreciation – bagi para pembaca/penghafal Al-Qur’an.

Ini mencontoh langsung apa yang dilakukan oleh Uswatun Hasanah kita dahulu, bahwa para penghafal Al-Qur’an memiliki kedudukan lebih dibandingkan dengan yang lain. Suatu penugasan diberikan kepada yang hafalannya lebih, begitupun ketika perang uhud menelan banyak korban dari pasukan kaum muslimin – Nabi mendahulukan yang hafalannya banyak yang ditangani lebih dahulu. Bahkan di Surga nanti tempat kita sampai setinggi apa juga dibedakan dengan seberapa banyak Qur’an yang ada pada diri (hafalan) kita.

Bila Rasul-pun menempatkan kedudukan seseorang berdasarkan hafalannya, dan Allah-pun di surga menentukan kedudukan kita berdasarkan hafalan kita – tentu termasuk didalamnya pemahaman dan pengamalannya, tidakkah kita sekarang ingin mulai memperlakukan manusia juga dengan sudut pandang demikian?

Maka project dakwah yang kita sebut Quran Prize ini nantinya insyaa Allah akan menyediakan online and realtime platform, bagi siapapun yang ingin menghargai orang lain berdasarkan hafalannya. Bagi orang awam, Quran Prize akan menjadi alat muhasabah – seberapa banyak kita tahu tentang isi Al-Qur’an dari waktu ke waktu.

Bagi para hafidz dan hafidzah Quran Prize akan menjadi alat untuk memonitor hafalannya agar jangan sampai ada yang hilang. Bagi perusahaan bisa menjadi insentif untuk memberikan bonus bagi karyawan yang memiliki QPS (Quran Prize Score) di atas nilai tertentu. Bagi sekolah dan perguruan tinggi bisa menjadi alat untuk memonitor perkembangan penguasaan Al-Qur’an untuk siswa-siswinya.

Bagi para penderma yang ingin memberi beasiswa kepada anak-anak sekolah dari SD sampai perguruan tinggi, mereka bisa menggunakan QPS untuk menentukan apakah si fulan berhak menerima beasiswa setiap bulan, atau perlu dicabut bila QPS-nya turun dibawah standard tertentu.

QPS juga akan dengan cepat bisa melihat apakah suatu negeri rata-rata penduduknya membaca Al-Qur’an dengan lebih baik dari negeri lain atau sebaliknya. Dengan QPS pula 100,000 orang di Gelora Bung Karno misalnya akan bisa diketahu siapa yang bacaan Quran-nya terbanyak – hanya dalam tempo sekitar 30 menit!

Bayangkan sekarang bila membaca Al-Qur’an menjadi budaya, maka saat itu tools yang sama bisa dikembangkan lebih lanjut untuk bisa mendorong pemahaman dan aplikasinya di masyarakat. Saat itulah peradaban Al-Qur’an akan meliliti dunia seperti benang yang digulung sampai menutupi sebuah bola.

Saat ini benang yang menutupi bola dunia tersebut adalah cuitan twitter dan ‘tembok ratapan’-nya facebook, rakyat Indonesia sudah jago dibidang keduanya – mencuit dan meratap – maka mengapa tidak kita juga buktikan sebaliknya, bahwa kita bisa mengajari dunia untuk membaca Al-qur’an dan bener-bener menghargai orang-orang yang terbaik dalam melakukannya. Insyaa Allah.